Isra Mi’raj Pristiwa yang Masuk Akal!

 

Oleh: Muhammad Ericson Ziad

(Direktur Shoul Lin al-Islami)

 

Di dalam salah satu risalah kecil berjudul “Isra dan Mi’raj Ditinjau dari Sudut Perjuangan” (1949) karangan seorang ulama modernis asal Betawi, Mualim Md. Ali Alhamidy Matraman, dikutip suatu cerita dari seorang guru besar tentang pristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. yang dianggap oleh sebagian orang sebagai pristiwa yang ganjil dan tidak masuk akal. Melalui cerita ini, Alhamidy ingin menyadarkan bahwa pristiwa tersebut masuk akal dan sangat mungkin terjadi. Guru besar tersebut berkata:

 

“Saya pernah pergi ke suatu tempat. Jauhnya dari rumah saya kira-kira 60 kilometer. Pulang pergi naik mobil kira-kira tiga jam. Waktu saya sampai di tempat yang saya tuju itu, badan saya terasa gatal seakan ada kutu yang menggigit. Saya cari kutu itu tidak ketemu. Maka sekembali saya di rumah, lalu saya periksa seluruh pakaian saya. Tiba-tiba saya temukan kutu itu berada di ikat pinggang saya.

 

Cobalah saudara-saudara perhatikan dan pikirkan! Binatang kutu yang begitu kecil sudah pergi ke suatu tempat yang jauhnya pulang pergi 120 kilometer hanya dalam tempo tiga jam. Kalau kejadian itu diceritakan kepada jenis bangsanya binatang kutu, tentulah ada yang menolak karena mereka tidak mengerti caranya ia pergi.

 

Begitulah Nabi Muhammad dibawa pergi Isra dan Mi’raj oleh malaikat Jibril ke Baitul Maqdis, terus ke langit yang paling tinggi dalam tempo yang kurang dari satu malam. Ada golongan yang menolak karena mereka tidak tahu caranya Jibril membawa Nabi. Padahal semua itu bukan perkara yang mustahil bagi akal, hanya saja merupakan suatu hal yang luar biasa bagi adat kebiasaan manusia.”

 

Cerita di atas dicantumkan Alhamidy di awal-awal tulisannya tentang peristiwa luar biasa Isra Mi’raj dengan judul “Ganjil Karena Tidak Tau Caranya”. Melalui cerita di atas, ia bermaksud menyampaikan bahwa walaupun kisah Isra Mi’raj ini tidak mudah diterima oleh akal, akan tetapi bukan hal yang mustahil bisa terjadi berdasarkan akal atau dalam bahasa ilmu kalam disebut dengan jāiz al-aql yang secara akal mungkin saja peristiwa itu bisa terjadi, hanya saja akal manusia yang belum mampu memikirkannya. Sebagaimana diumpamakan seperti bangsa kutu di atas yang bisa melakukan perjalanan berkilo-kilometer hanya dengan menempuh waktu beberapa jam saja.

 

Menurut Alhamidy juga, tujuan peringatan Isra Mi’raj itu adalah untuk tajdīd al-īmān atau memperbarui keimanan. Sebab baginya iman itu jika diumpamakan seperti barang, ada kalanya barang itu kotor, rusak atau bahkan mungkin hilang. Oleh karena itu, dengan membaca riwayat Isra Mi’raj yang penuh dengan perjuangan diharapkan mampu membersihkan iman yang kotor, memperbaiki iman yang rusak dan menemukan kembali iman yang hilang. Oleh karena itu, saya ucapkan selamat memperingati Isra Mi’raj bagi yang memperingatinya. Bagi yang tidak memperingati, tidak jadi masalah. Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tawakkal dan Pendidikan Anak

Bolehkah menyembunyikan Ilmu?

IRT Pekerjaan Malaikat